Rabu, 14 November 2018

PERAYAAN MAULID NABI ADALAH BID'AH

PERAYAAN MAULID NABI ADALAH BID'AH

Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah :

☝ Sesungguhnya perayaan maulid nabi shalallahu alaihi wasallam adalah perkara bida'h(perkara baru yang diada-adakan dalam agama), dan setiap perkara bida'h adalah kesesatan.

Terlebih lagi perayaan ini pasti tidak bisa lepas dari kemunkaran.Sampai berita kepada kami bahwa :

Di perayaan maulid terdapat campur baur antara laki dan perempuan, ini kejelekan pertama, dan ini merupakan fitnah.

Mereka juga mendendangkan qasidah-qasidah yang terdapat padanya  perkara yang berlebihan dan melampaui batas.

Qasidah terbagus di sisi mereka adalah qasidah yang paling kelewat batas.Seperti qasidah [ Burdah ] milik Al Bushiri, ini adalah qasidah yang paling bagus untuk dinyanyikan (menurut mereka).

Padahal dalam qasidah tersebut terdapat kekafiran yang nyata.

Sumber : Liqa al Baabul Maftuh 66

•••┈••••○❁❁○••••┈•••

أن الاحتفال بمولد الرسول ـ صلى الله عليه وسلم ـ بدعة، وكل بدعة ضلالة، لا سيما وأن هذا الاحتفال لا يخلو من طوام؛ إذْ يقال لنا: إنه يكون فيه اجتماع واختلاط بين الرجال والنساء. هذه واحدة، وهي فتنة. ويقال أيضاً: إنهم يأتون بالقصائد التي فيها الغلو والمبالَغة، وأحسن ما عندهم من القصائد أشدها مبالغة، فمثلاً قصيدة البردة للبوصيري هي أحسن ما يتغنون به، وفيها من الكفر الصريح ما هو ظاهر

  لقاء الباب المفتوح [66]

•••┈••••○❁❁○••••┈•••

✍WhatsApp
Ⓚ①ⓉⒶⓈⒶⓉⓊ
Bagi-bagi faedah ilmiahnya....ayo segera  bergabung
Join Channel Ⓚ①Ⓣ
https://t.me/KajianIslamTemanggung

Dengarkan••• [ VERSI BARU❗ ]  Kajian Islam dan Murotal al-Quran setiap saat di Radio Islam Indonesia
http://bit.ly/AplikasiRadioIslamIndonesia2

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

Selasa, 13 November 2018

NIAT TEMPATNYA DI HATI, TIDAK DISYARIATKAN MELAFADZKANNYA

Niat Tempatnya di Hati.

Tidak Ada Dalil yang Shohih dari Ucapan atau Perbuatan Nabi maupun para Sahabatnya yang Menunjukkan bahwa Sebelum Melakukan Wudhu, Sholat, Puasa Melafadzkan Niat terlebih Dahulu.

Seperti Ucapan : Usholli... atau Nawaitu...dan semisalnya.

Di antara Dalil yang Menunjukkan ini adalah Hadits :

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَأَسْبِغْ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلْ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ

Jika Engkau akan Melakukan Sholat maka Sempurnakanlah Berwudlu kemudian Menghadaplah Kiblat kemudian Bertakbirlah.
(H.R alBukhari dan Muslim).

Dalam Lafadz yang lain Beliau Bersabda :

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ

Jika engkau Berdiri untuk Melakukan Sholat maka Bertakbirlah…(H.R Bukhari-Muslim).

Jelas Sekali dalam Hadits-hadits tersebut Nabi Shollallaahu Alaihi Wasallam Tidak Menyuruh Seseorang untuk Mengucapkan Niat sebelum Bertakbir dalam Sholat.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Dikutip dari Buku " 40 HADITS PEGANGAN HIDUP MUSLIM
(Syarh Arbain anNawawiyah) "

Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah.

=====================
http://telegram.me/Sifat_Sholat_Nabi

Syarat sah sholat, rukun sholat dan kewajiban dalam sholat [lengkap]

Syarat Sah Sholat :

1. Suci dari Hadats Besar dan Kecil.

2. Suci dari Najis pada Tubuh, Pakaian, dan Tempat Sholat.

3. Menutup Aurat, bagi Pria : dari Pusar hingga Lutut. Wanita : Seluruh Tubuh kecuali Wajah dan Kedua Telapak Tangan.

4. Menghadap ke Arah Kiblat.

Bagi Orang yang Melihat Langsung Ka’bah ia Harus Menghadap ke Dzat/Benda Ka’bah, sedangkan Bagi Orang yang Jauh dari Ka’bah cukup Menghadap ke Arah Makkah. Persis Sudutnya Lebih baik, Namun kalau tidak bisa, Bagi Orang di Indonesia Cukup Menghadap ke Arah Barat (antara Selatan dan Utara).

5. Sudah Masuk Waktu Sholat.

6. Niat.

Sebagaimana Telah Dijelaskan pada Hadits bahwa Niat Tempatnya adalah di Hati dan Tidak Dilafalkan, karena Memang Tidak Ada Tuntunannya dari Nabi Shollallaahu Alaihi Wasallam untuk Melafalkan Niat.

☝️ Rukun-rukun Sholat :

1. Berdiri Bagi yang Mampu, dalam Sholat Wajib.
Untuk Sholat Sunnah, Tidak Mengapa Sholat dengan Duduk meski Mampu Berdiri, dan Pahalanya menjadi Setengah Sholat Berdiri.

2. Takbiratul Ihram : Ucapan “Allahu Akbar”.

Ucapan “Allahu Akbar” adalah Rukun, sedangkan Gerakan Mengangkat Tangannya adalah Sunnah.

3. Membaca Al-Fatihah

4. Gerakan Ruku.

-  Minimal : Membungkukkan Badan sehingga Memungkinkan Tangan Menyentuh Lutut.

-  Sempurna : Membungkukkan Badan dan Posisi  Punggung Rata dan Sejajar dengan Kepala.

5. Gerakan Bangkit dari Ruku.

6. Gerakan I’tidal : Posisi Berdiri Tegak setelah dari Ruku.

7. Gerakan Sujud.

Terdapat Tujuh Anggota Sujud : Dahi, Hidung, Kedua Telapak Tangan, Kedua Lutut, Ujung Jari.

8. Gerakan Bangkit dari Sujud.

9. Duduk di antara Dua Sujud.

. Thuma’ninah : Tenang dan Tidak Tergesa-gesa Pada Setiap Gerakan.

11. Bacaan Tasyahhud Akhir dan Sholawat kepada Nabi di Tasyahhud Akhir.

12. Gerakan Duduk Tasyahhud Akhir.

13. Salam.

14. Urut pada Setiap Gerakan.

Kewajiban dalam Sholat :

1. Bacaan Takbir selain Takbiratul Ihram.

2. Ucapan “Sami’allaahu Liman Hamidah” saat Bangkit dari Ruku untuk Imam dan Orang yang Sholat Sendirian.

3. Ucapan “Robbanaa Wa Lakal Hamdu” pada Saat I’tidal.

4. Ucapan “Subhaana Robbiyal ‘Adzhiim” Minimal Sekali pada saat Ruku.

5. Ucapan “Subhaana Robbiyal A’laa” Minimal Sekali saat Sujud.

6. Ucapan “Robbighfirlii” Minimal Sekali saat Duduk di antara Dua Sujud.

7. Bacaan Tasyahhud Awal.

8. Gerakan Duduk Tasyahhud Awal.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dikutip dari Buku 40 HADITS PEGANGAN HIDUP MUSLIM
(Syarh Arbain AnNawawiyah).

▶️ Al Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah.

=====================

publikasi :

http://telegram.me/Sifat_Sholat_Nabi

BAHAYA MENINGGALKAN SHALAT

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkata:

من لم يصل فلا دين له.

"Siapa yang tidak mengerjakan shalat maka tidak ada agama baginya."

Shahih, diriwayatkan oleh Ali bin al-Madiny, no. 84

Sumber || https://twitter.com/Arafatbinhassan/status/832721060072128512

⚪ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy

Turut Menyebarkan :
⏩ http://telegram.me/Sifat_Sholat_Nabi

HUKUM UCAPAN :" SHODAQOLLOOHUL 'ADZIIM " SETELAH SELESAI MEMBACA AL-QUR'AN

Fatwa Asy syaikh Muhammad bin Saleh Al utsaimin rahimahullah

HUKUM UCAPAN :" SHODAQOLLOOHUL 'ADZIIM " SETELAH SELESAI MEMBACA AL QUR'AN

BAARAKALLAHU FIIKUM ,( penanya) berkata: " Ketika selesai dari membaca surat Al fatihah dan surat setelahnya apakah boleh mengucapkan " shodaqolloohul 'adziim"(Maha Benar Allah Yang maha Agung) ?"

JAWAB :

" Ucapan shodaqolloohul 'adziim setelah selesai membaca di dalam shalat atau selainnya adalah BID'AH , karena hal itu tidaklah datang dari Nabi shalallaahu 'alaihi wa sallam tidak pula dari para shahabat beliau bahwasanya mereka apabila selesai membaca (Al Qur'an) mengucapkan "shodaqolloohul 'adziim "

Dan telah di ketahui bahwasanya ucapan seseorang : "shodaqolloh" merupakan  IBADAH , karena dia memuji Allah dengan bersyukur , apabila hal itu merupakan IBADAH maka sesungguhnya TIDAK BOLEH bagi kita untuk mensyariatkan ibadah - ibadah yang tidak  di syariatkan oleh Allah dan RasulNya , jika kita mengerjakan hal itu adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat . Berdasarkan hal ini maka orang yang membaca apabila selesai dari bacaannya ia diam dan tidak mengucapkan "shodaqolloohul 'adziim" tidak pula mengucapkan selainnya , karena yang demikian tidak pernah datang (perintah) dari Nabi shallallahu 'alaihi wa salam tidak pula dari para shahabat beliau radhiyallohu 'anhum .Sungguh Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu telah membacakan kepada Nabi shalallahu 'alaihi wa salam  sebuah ayat dari surat An Nisa hingga sampai pada ayat :

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا

{Bagaimanakah jika Aku datangkan saksi untuk setiap umat, Aku datangkan kamu sebagai saksi bagi mereka semua.}

Nabi sholallohu 'alaihi wa sallam bersabda :" CUKUP !" 

Ia berkata : Ternyata kedua mata beliau berlinangan semoga sholawat dan salam atas beliau .Dan Ibnu Mas'ud tidak mengucapkan : Shodaqollooh , dan tidak pula Nabi sholallohu 'alaihi wa sallam memerintahkan beliau dengan hal itu .Demikian juga Zaid Bin Tsabit pernah membaca di sisi beliau-sholallohu 'alaihi wa sallam  surat An Najm hingga selesai dan Nabi sholallohu 'alaihi wa sallam tidak berkata kepada beliau : " Ucapkanlah shodaqolloohul 'adziim." dan (Zaid bin tsabit) juga tidak mengucapkannya . Maka hal ini menunjukan bahwasanya  bukan termasuk petunjuk Nabi sholallohu 'alaihi wa salam dan juga bukan petunjuk para shahabat beliau seseorang ketika selesai membaca mengucapkan : shodaqollohul 'adziim tidak didalam sholat maupun di luar sholat ."

Sumber: Silsilah fatawa nur 'alad darb ,kaset no 237

===========

السؤال :

بارك الله فيكم تقول : عند الانتهاء من قراءة سورة الفاتحة والسورة التي تليها هل يجوز قول صدق الله العظيم؟

الجواب :

الشيخ : قول صدق الله العظيم بعد انتهاء التلاوة في الصلاة، أو في غيرها بدعة، وذلك لأنه لم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم ولا عن أصحابه أنهم كانوا إذا انتهوا من القراءة، قالوا : صدق الله، ومن المعلوم أن قول القائل : صدق الله عبادة؛ لأنه ثناء على الله بالشكر، وإذا كان عبادة، فإنه لا يجوز أن نشرع من العبادات ما لم يشرعه الله ورسوله، فإن فعلنا ذلك كان بدعة، وكل بدعة ضلالة، وعلى هذا فالقارئ إذا انتهى من قراءته يسكت، ولا يقول: صدق الله العظيم ولا غيرها؛ لأن ذلك لم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم، ولا عن أصحابه رضي الله عنهم، وقد قرأ ابن مسعود رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم شيئاً من سورة النساء حتى إذا بلغ قول الله تعالى: ﴿فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاءِ شَهِيداً﴾. قال النبي صلى الله عليه وسلم: «حسبك». قال: فإذا عيناه تزرفان صلوات الله وسلامه عليه. ولم يقل ابن مسعود: صدق الله، ولا أمره النبي صلى الله عليه وسلم بذلك، وكذلك قرأ عنده زيد بن ثابت سورة النجم حتى ختمها، ولم يقل النبي صلى الله عليه وسلم له، قل: صدق الله العظيم. ولا قالها أيضاً، فدل هذا على أنه ليس من هدي النبي صلى الله عليه وسلم، ولا هدي أصحابه أن يقولوا عند انتهاء القراءة: صدق الله العظيم لا في الصلاة ولا خارج الصلاة.

المصدر : سلسلة فتاوى نور على الدرب > الشريط رقم [237].


══════ ❁✿❁ ══════

@ahkammuslimah

▪▪◾◾◼◼◾◾▪▪

Majmu'ah Riyadhussalafiyyin
↘ Join Channel Telegram :
▶ https://telegram.me/Riyadhussalafiy